Dari Rektor Kembali ke Dunia Literasi, Dr. Fera Ajak Santri Ubah Pengalaman Menjadi Cerita

iaisyaichona.ac.id — Di tengah kesibukannya sebagai Rektor Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan, Dr. Fera Andriani Djakfar, Lc., M.Pd.I. kembali berbagi pengalaman di dunia yang telah lama menjadi bagian dari perjalanan intelektualnya: kepenulisan.

Hal tersebut terlihat dalam kegiatan Seminar Literasi “Santri Menulis, Dunia Terinspirasi: Mengubah Pengalaman Menjadi Cerita Fiksi” yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil (LP3S) di Aula Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil Bangkalan, Minggu (30/8/2026).

Seminar yang berlangsung mulai pukul 13.30 WIB tersebut diikuti para santri penulis dari berbagai pesantren di Kabupaten Bangkalan, termasuk para juara lomba menulis cerpen yang diselenggarakan LP3S.

Mengangkat tema tentang bagaimana mengolah pengalaman menjadi cerita fiksi, Dr. Fera mengajak para santri untuk melihat pengalaman sehari-hari sebagai sumber ide yang tidak pernah habis. Pengalaman personal, menurutnya, dapat dikembangkan menjadi cerita yang lebih luas, menyentuh pembaca, dan memiliki nilai inspiratif.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Dr. Fera untuk kembali berbicara dalam kapasitasnya sebagai seorang penulis. Sebelum dikenal luas sebagai Rektor INSYA, Dr. Fera telah lebih dahulu dikenal di dunia literasi sebagai penulis, cerpenis, dan novelis.

Hingga saat ini, ia telah menghasilkan 11 buku solo dan berkontribusi dalam sekitar 30 buku antologi bersama penulis lainnya. Pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Dr. Fera untuk berbagi tentang proses kreatif, khususnya bagaimana pengalaman hidup dapat ditransformasikan menjadi karya fiksi.

Di sela aktivitas akademiknya sebagai pimpinan perguruan tinggi, Dr. Fera juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan. Ia tercatat sebagai pengurus bidang Pendidikan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangkalan, yang turut menjadi bagian dari kiprahnya dalam mendorong pengembangan pendidikan dan literasi.

Menulis Bukan Sekadar Berkarya

Ada satu pesan yang secara khusus ditekankan Dr. Fera kepada para santri dalam seminar tersebut: menulis adalah tanggung jawab.

Menurutnya, seorang penulis tidak hanya bertanggung jawab terhadap kualitas tulisannya, tetapi juga terhadap dampak yang ditimbulkan karya tersebut kepada pembaca.

“Penulis mempunyai konsekuensi dunia akhirat untuk karya-karyanya. Karya yang kita tulis bisa mengantarkan kita ke surga, tetapi juga bisa mengantarkan ke neraka,” pesannya.

Karena itu, ia mengingatkan para santri agar tidak menjadikan kemampuan menulis sekadar sebagai sarana untuk mendapatkan popularitas atau menghasilkan karya, tetapi juga sebagai jalan untuk menyebarkan kebaikan.

“Menulislah yang baik-baik dan inspiratif,” tegasnya.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat pendidikan pesantren yang tidak hanya menekankan penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan kebermanfaatan bagi masyarakat. Bagi Dr. Fera, santri memiliki kekayaan pengalaman, tradisi, nilai, dan kisah kehidupan pesantren yang sangat potensial untuk diangkat menjadi karya sastra.

Seminar literasi ini pun diharapkan dapat menjadi ruang bagi para santri untuk semakin percaya diri menulis dan melahirkan karya. Sebab, pengalaman yang hanya disimpan sebagai kenangan akan berhenti pada diri sendiri, sementara pengalaman yang diolah menjadi tulisan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dari pesantren, para santri tidak hanya belajar membaca kitab dan memahami ilmu agama. Mereka juga dapat menulis, berkarya, dan menghadirkan cerita yang menginspirasi dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *