iaisyaichona.ac.id — Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan menggelar bedah buku Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca Konflik Etnik, Ahad (23/08/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung A Kampus INSYA Bangkalan tersebut terbuka untuk umum dan menghadirkan penulis buku, Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si., Guru Besar bidang Ilmu Islam dan Etnisitas sekaligus Wakil Rektor III UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber utama.
Bedah buku ini menjadi ruang akademik untuk mengkaji secara lebih mendalam dinamika masyarakat Madura di perantauan, terutama terkait resiliensi, strategi bertahan dan beradaptasi, serta transformasi identitas masyarakat Madura setelah mengalami konflik etnik. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk melihat diaspora Madura dari perspektif yang lebih luas dan kontekstual.
Rektor INSYA Bangkalan, Dr. Fera Andriani Djakfar, Lc., M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku tersebut sangat menarik dan relevan dengan realitas yang dialami sebagian mahasiswa maupun dosen INSYA.
“Ini menarik karena banyak mahasiswa kita yang mengalami langsung peristiwa diaspora seperti ini, termasuk dosen kita. Menjadi lebih menarik lagi karena kita dapat membedah buku yang ditulis langsung oleh penulisnya,” ungkapnya.
Menurut Dr. Fera, kegiatan tersebut diharapkan dapat menghadirkan perspektif baru bagi sivitas akademika INSYA dalam memahami masyarakat Madura, khususnya fenomena diaspora dan kehidupan masyarakat Madura di luar daerah asalnya.
“Atas nama institusi, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Beliau juga merupakan Wakil Rektor III di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Semoga kegiatan ini menjadi awal dari kerja sama yang dapat terus berlanjut,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Senat INSYA Bangkalan, KH. Mohammad Nasih Aschal, M.Pd., mengaku bangga atas kiprah putra Madura yang mampu menempati posisi strategis di lingkungan perguruan tinggi ternama.
“Saya juga merasa bangga karena beliau adalah orang Madura, apalagi bisa menjadi Wakil Rektor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,” tuturnya.
Ia juga menyoroti karakter masyarakat Madura yang memiliki mobilitas tinggi. Menurutnya, masyarakat Madura sejak dahulu dikenal sebagai kelompok yang gemar merantau, baik untuk mencari pengalaman, menuntut ilmu, maupun mencari pekerjaan di luar Madura.
“Sebagai orang Madura, kita suka bepergian atau mencari pekerjaan di luar Madura. Selain berbagai alasan yang melatarbelakanginya, saya merasakan bahwa orang Madura itu kuat secara kultur,” jelasnya.
Lebih lanjut, KH. Mohammad Nasih Aschal mengaitkan tradisi merantau dengan pandangan keagamaan masyarakat Madura. Menurutnya, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat yang dilalui manusia dalam menjalani kehidupan.
“Perintah agama mengajarkan bahwa dunia ini hanya untuk dikunjungi atau dilewati, bukan menjadi tujuan akhir,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini dirinya tetap merasa bangga menjadi bagian dari masyarakat Madura dengan segala karakter, budaya, dan nilai yang melekat di dalamnya. Ia kemudian secara resmi membuka kegiatan bedah buku tersebut.
Madura, Resiliensi, dan Transformasi Masyarakat
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Abdur Rozaki, S.Ag., M.Si. mengajak peserta melihat Madura tidak hanya dari stereotip yang selama ini berkembang, tetapi juga dari kekuatan sejarah, budaya, dan kemampuan masyarakatnya dalam menghadapi perubahan.
Ia menggambarkan Madura sebagai wilayah yang memiliki kekuatan historis dan kultural yang besar. Dalam salah satu analoginya, Madura diibaratkan seperti Kerajaan Majapahit, sebuah kekuatan besar yang pernah memiliki pengaruh luas.
Prof. Abdur Rozaki juga menjelaskan bahwa masyarakat Madura mengalami proses transisi dari kehidupan tradisional menuju modernitas dengan sangat cepat. Perubahan tersebut tidak serta-merta menghilangkan identitas kultural masyarakat Madura, tetapi justru melahirkan bentuk-bentuk baru dalam cara masyarakat Madura beradaptasi dengan lingkungan sosial yang terus berubah.
Menurutnya, kebudayaan selalu mengalami dinamika. Ada masa ketika suatu kebudayaan mengalami perkembangan yang kuat, tetapi ada pula fase pasang surut. Dinamika tersebut juga dapat dilihat dalam perjalanan masyarakat Madura, termasuk setelah wafatnya Syaikhona Mohammad Kholil Bangkalan yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Madura.
Dalam konteks tersebut, ia mengangkat ungkapan “Madura itu madunya negara” (Maddunah negereh) sebagai salah satu cara untuk menggambarkan potensi dan kekuatan masyarakat Madura.
“Kalau ingin kuat, maka harus minum madu,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa Madura memiliki potensi besar yang dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan bangsa apabila kekuatan sosial, budaya, pendidikan, dan sumber daya manusianya dapat dikembangkan secara optimal.
Prof. Abdur Rozaki kemudian mengajak peserta untuk melihat kembali mengapa masyarakat Madura hingga kini masih kerap dilekatkan dengan berbagai stereotip negatif. Menurutnya, pemahaman terhadap masyarakat Madura tidak cukup dilakukan melalui persepsi yang berkembang di ruang publik, tetapi perlu melihat sejarah, pengalaman sosial, kekuatan budaya, serta kemampuan masyarakat Madura dalam beradaptasi dengan perubahan zaman.
Melalui bedah buku ini, peserta diajak memahami diaspora bukan semata-mata sebagai fenomena perpindahan masyarakat dari satu wilayah ke wilayah lain. Diaspora juga merupakan proses sosial yang membentuk pengalaman, identitas, strategi adaptasi, serta hubungan masyarakat dengan daerah asalnya.
Kegiatan bedah buku tersebut berlangsung dalam suasana akademik yang interaktif. Diskusi tidak hanya membahas isi buku, tetapi juga mengaitkannya dengan pengalaman masyarakat Madura di berbagai daerah, termasuk mahasiswa dan sivitas akademika yang memiliki pengalaman hidup di luar Madura.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan sivitas akademika INSYA Bangkalan sekaligus menjadi ruang refleksi untuk melihat Madura secara lebih objektif, kritis, dan konstruktif. Di tengah mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, diaspora Madura menjadi fenomena penting untuk dikaji sebagai bagian dari dinamika sosial, budaya, pendidikan, dan pembangunan masyarakat Madura di masa kini.
