iaisyaichona.ac.id — Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII Dalwa) melaksanakan kegiatan sharing session dan studi banding bersama Himpunan Mahasiswa (HIMA) Pendidikan Bahasa Arab (PBA) Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan. Kegiatan tersebut berlangsung di Meeting Room Gedung C Nyai Hj. Mutmainah Aschal, pada pukul 13.00–16.00 WIB. Senin (07/09/26).
Kegiatan studi banding ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan wawasan mengenai pengelolaan organisasi kemahasiswaan, pengembangan kompetensi mahasiswa, serta berbagai program unggulan dalam pembelajaran dan pembiasaan bahasa Arab.
Berdasarkan hasil diskusi, terdapat sejumlah program dan sistem yang dinilai dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus inspirasi bagi HIMA PBA INSYA Bangkalan dalam mengembangkan program kerja yang lebih terstruktur dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa.
Salah satu fokus pembahasan adalah pengembangan kemampuan berbahasa Arab melalui program Qismul Lughoh. Program ini diarahkan pada penguasaan mufradat, praktik percakapan bahasa Arab, penyusunan kalimat, serta pembiasaan menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep tersebut dinilai dapat diadaptasi dan dikembangkan di lingkungan HIMA PBA INSYA Bangkalan melalui pembiasaan penggunaan bahasa Arab sejak semester awal. Upaya tersebut dapat didukung dengan penyediaan buku panduan, pemanfaatan media berbahasa Arab, praktik berbicara secara mandiri maupun berkelompok, serta pemasangan mufradat di berbagai tempat sebagai media pembiasaan bahasa.
Selain itu, pembentukan Bi’ah Bahasa Arab menjadi salah satu aspek penting yang turut dibahas. Lingkungan berbahasa diharapkan mampu menciptakan suasana yang mendorong mahasiswa untuk terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Arab.
Dalam penerapannya, sistem pengawasan atau jasus dapat digunakan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga kedisiplinan penggunaan bahasa Arab. Namun, sistem tersebut perlu disertai dengan pembinaan yang berkelanjutan serta penerapan sanksi yang bersifat edukatif agar mampu membangun kesadaran, bukan sekadar kepatuhan.
Program Muhawarah juga menjadi salah satu program yang dapat dikembangkan. Dengan menggunakan kitab atau bahan ajar yang sesuai, kegiatan muhawarah dapat diarahkan pada praktik komunikasi secara langsung sehingga mahasiswa tidak hanya memahami kaidah dan teori bahasa Arab, tetapi juga mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.
Sementara itu, Raudhatun Nathiqin dapat dikembangkan sebagai wadah kolaborasi antara Qismul Lughoh dan HIMA PBA. Program tersebut diharapkan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan berbicara sekaligus membangun keberanian dan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa Arab.
Tidak hanya berfokus pada pengembangan bahasa, studi banding juga membahas aspek penguatan organisasi dan kemandirian finansial. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah program Ikraf (Iknomi Kreatif) yang dapat dikembangkan sebagai upaya HIMA dalam membangun sumber pendanaan secara mandiri.
Kegiatan tersebut dapat diwujudkan melalui penjualan berbagai produk kreatif dan kebutuhan mahasiswa, seperti merchandise serta produk khas PBA. Dalam pelaksanaannya, setiap kegiatan perlu didukung dengan mekanisme perizinan atau taraddud yang jelas agar program berjalan tertib, terarah, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Secara keseluruhan, kegiatan studi banding antara HMPS PBA UII Dalwa dan HIMA PBA INSYA Bangkalan memberikan berbagai wawasan baru dalam pengelolaan organisasi, pengembangan keterampilan bahasa Arab, pembentukan lingkungan berbahasa, serta penguatan kemandirian finansial organisasi.
Hasil studi banding tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi dan inspirasi bagi HIMA PBA INSYA Bangkalan untuk menyusun program kerja yang lebih terarah, terstruktur, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan mahasiswa, sekaligus mendukung terciptanya lingkungan akademik yang semakin kuat dalam pengembangan bahasa Arab.
