iaisyaichona.ac.id — Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan sukses menggelar Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke-XV Tahun Akademik 2025–2026. Prosesi wisuda berlangsung khidmat di Gedung Serba Guna Rato Ebuh, Bangkalan, Kamis (24/09/2026).
Wisuda ke-XV menjadi momentum penting bagi INSYA Bangkalan dalam mengukuhkan para lulusan yang telah menyelesaikan pendidikan akademiknya. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen INSYA Bangkalan dalam mencetak lulusan yang memiliki bekal keilmuan, berakhlak, serta mampu berkontribusi di tengah masyarakat.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran Senat Institut, pimpinan dan sivitas akademika INSYA Bangkalan, para wisudawan dan wisudawati beserta wali, serta sejumlah tamu undangan, termasuk perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Kopertais Wilayah IV Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Rektor INSYA Bangkalan, Dr. Fera Andriani Djakfar Musthafa, Lc., M.Pd.I., memaparkan perjalanan transformasi kelembagaan INSYA Bangkalan sekaligus arah pengembangan kampus dalam beberapa tahun ke depan.
Menurutnya, INSYA saat ini berada dalam fase transformasi kelembagaan yang dalam peta perjalanan institusi berlangsung pada rentang 2025 hingga 2030. Transformasi tersebut, kata Rektor, tidak sekadar berkaitan dengan perubahan nama, gedung, struktur, maupun perangkat kelembagaan, tetapi menyangkut perubahan yang lebih mendasar.
“Saat ini INSYA berada dalam fase transformasi yang dalam peta perjalanan kelembagaan kami berlangsung pada rentang waktu 2025 hingga 2030. Transformasi tentu bukan sekadar perubahan nama, gedung, struktur atau berbagai perangkat kelembagaan. Transformasi yang sesungguhnya adalah perubahan cara berpikir, bekerja, budaya akademik, dan kualitas SDM,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa proses transformasi membutuhkan perubahan kebiasaan, pembangunan standar baru, serta keberanian untuk meninggalkan kebiasaan lama yang sudah tidak relevan.
“Dalam perubahan yang positif tentu membutuhkan proses, yakni terdapat kebiasaan baru yang harus dibangun dan standar yang harus dikejar, dan bisa jadi ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan. Semua itu dilakukan bukan semata-mata untuk menjadikan INSYA berbeda, tetapi agar INSYA benar-benar tumbuh menjadi perguruan tinggi yang lebih baik,” imbuhnya.
Visi INSYA Menuju 2035

Selain menjelaskan proses transformasi kelembagaan, Dr. Fera juga memaparkan arah pengembangan INSYA Bangkalan melalui visi institusi menuju tahun 2035.
Ia menyampaikan bahwa INSYA berkomitmen membangun perguruan tinggi keagamaan Islam berbasis nilai-nilai pesantren yang berintegritas, kompetitif, dan berwawasan global pada tahun 2035.
Menurutnya, visi tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai program dan kebijakan kelembagaan dengan empat kata kunci utama, yakni nilai-nilai pesantren, integritas, kompetitif, dan berwawasan global.
Kata kunci pertama adalah nilai-nilai pesantren. Dalam beberapa waktu terakhir, INSYA terus berupaya memperkuat internalisasi sekaligus instrumentalisasi nilai-nilai perjuangan Syaikhona Mohammad Kholil dalam kehidupan akademik dan kelembagaan.
Nilai-nilai tersebut, menurut Rektor, tidak cukup hanya menjadi simbol atau identitas institusi, tetapi harus hadir dalam ruh, perilaku, dan budaya kampus. Salah satu bentuk upaya tersebut adalah penetapan mata kuliah Kajian Turats Syaikhona Mohammad Kholil, pembacaan Shalawat Ilmi dalam berbagai kegiatan resmi kampus, serta pembacaan Ratib Syaikhona dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.
“Harapannya, tradisi tersebut tidak berhenti sebagai rutinitas seremonial, tetapi menjadi pengingat dan penyambung bahwa kita tersambung dengan guru kita, Syaikhona Mohammad Kholil,” jelasnya.
Kata kunci kedua adalah integritas. Rektor menegaskan bahwa institusi pendidikan tidak hanya bertugas menghasilkan orang-orang yang memiliki kecerdasan akademik, tetapi juga manusia yang dapat dipercaya.
Karena itu, INSYA terus berupaya membangun budaya integritas di lingkungan kampus, termasuk melalui penetapan aturan dan konsekuensi terhadap setiap pelanggaran.
“Bagi kami, disiplin dan punishment bukanlah bentuk ketidakramahan institusi. Justru keduanya diperlukan agar nilai-nilai integritas memiliki makna dan aturan memiliki wibawa, karena integritas tidak cukup diajarkan melalui mata kuliah, tetapi harus dilatih, dibiasakan, dan ditegakkan,” tuturnya.
Kata kunci ketiga adalah kompetitif. Dalam rangka membangun budaya mutu dan memberikan apresiasi terhadap prestasi sivitas akademika, INSYA mulai tahun ini secara resmi meluncurkan INSYA Excellence Award.
Program tersebut menjadi salah satu ikhtiar institusi untuk mendorong dosen agar semakin aktif dalam pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tenaga kependidikan agar semakin profesional, serta mahasiswa agar memiliki budaya berprestasi.
“Kami ingin dosen terus aktif dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, kami ingin tenaga kependidikan semakin profesional, dan kami pastinya ingin mahasiswa memiliki budaya berprestasi, bukan hanya mengejar kelulusan semata,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi yang berkembang bukan hanya ditandai dengan banyaknya mahasiswa yang lulus, tetapi juga kemampuannya dalam melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki daya saing.
Kata kunci keempat dalam visi INSYA adalah berwawasan global. Di tengah perkembangan dunia yang semakin terbuka, INSYA berupaya memperluas jejaring dan membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak, baik di tingkat internasional, nasional, maupun regional.
Pada tingkat internasional, INSYA telah menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga dan institusi, di antaranya KBRI Kuala Lumpur Malaysia, Madrasah Ribat Al Musawa Selangor, Lincoln University Malaysia, Surau Syaikhona Mohammad Kholil Malaysia, dan Jamiah Riyadh Al-Alamiyah Mesir, serta sejumlah mitra lainnya.
Sementara itu, pada tingkat nasional dan regional, khususnya di Kabupaten Bangkalan, INSYA menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bangkalan, Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangkalan, Kepolisian Resor Bangkalan, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Badan Pusat Statistik (BPS), Badan Pertanahan Nasional (BPN), Rumah Tahanan Negara (Rutan), perbankan, PCNU, serta sejumlah pesantren di Madura.
Dr. Fera menegaskan bahwa kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan pada penandatanganan dokumen formal, tetapi diharapkan menghasilkan berbagai kegiatan nyata yang memberikan manfaat bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun pengembangan institusi.
Melalui transformasi kelembagaan, penguatan nilai-nilai pesantren, pembangunan budaya integritas, peningkatan daya saing, serta perluasan jejaring kerja sama, INSYA Bangkalan terus mengarahkan langkahnya menuju perguruan tinggi keagamaan Islam yang memiliki karakter kuat, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan memiliki wawasan global.
