Kuliah Tamu INSYA: KH. Muhammad Nasih Aschal Kupas Nilai-Nilai Pendidikan ala Syaichona Mohammad Cholil

iaisyaichona.ac.id – Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan menggelar Tasyakuran dan Doa Bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas suksesnya penyelenggaraan Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) Tahun 2026 yang berlangsung di kampus INSYA. Kegiatan tersebut dikemas dalam Kuliah Tamu bertajuk “Ngaji Pendidikan ala Syaichona Mohammad Cholil” bersama Ketua Senat INSYA, KH. Muhammad Nasih Aschal, pada Jumat sore (26/6/2026) di halaman Gedung C Nyai Hj. Mutmainnah Aschal.

Kegiatan ini dihadiri oleh pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa INSYA Bangkalan. Selain menjadi momentum tasyakuran, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi bagi seluruh sivitas akademika untuk meneguhkan nilai-nilai pendidikan, pengabdian, dan keberkahan yang diwariskan Syaichona Mohammad Cholil.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Rektor INSYA, Dr. Fera Andriani Djakfar Musthafa, Lc., M.Pd.I, kembali menegaskan makna tagline kampus “Berkah, Bersinergi, Menginspirasi” yang telah dirumuskan pada 22 April 2025 melalui masukan dari berbagai pihak.

“Bahwa kata-kata yang baik itu adalah bagian dari sebuah penyemangat dan doa,” ungkapnya.

Menurut Rektor, berbagai capaian INSYA dalam beberapa waktu terakhir menjadi bukti nyata dari makna tagline tersebut. Pada aspek Berkah, INSYA dipercaya mewakili 27 perguruan tinggi dalam penandatanganan kerja sama penerima Beasiswa LPPD Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

“Jika yang dari luar saja berguru kepada Syaikhona Kholil, apalagi kita sebagai santrinya,” ujarnya.

Keberkahan lainnya, lanjut Rektor, adalah terpilihnya INSYA sebagai lokasi penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 yang dihadiri Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Menurutnya, kepercayaan tersebut merupakan nikmat besar yang patut disyukuri oleh seluruh keluarga besar kampus.

Pada aspek Bersinergi, Rektor menyampaikan bahwa INSYA terus memperluas kerja sama dengan berbagai lembaga, baik di dalam maupun luar negeri. Sementara pada aspek Menginspirasi, ia mengajak seluruh sivitas akademika untuk terus menjadi pribadi yang memberikan teladan.

“Sudahkah kita menginspirasi? Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing. Ada yang menginspirasi karena ketaatannya, khidmahnya, kecerdasannya, maupun keteladanan dalam berbagai bidang,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam kuliah tamunya, Ketua Senat INSYA KH. Muhammad Nasih Aschal mengajak seluruh dosen dan mahasiswa untuk melihat kembali perjalanan kampus sebagai bagian dari ikhtiar meraih keberkahan Allah SWT.

“Ketika hari ini kita berkumpul, paling tidak kita bisa melihat dari mana kita melangkah. Saya meyakini bahwa semua ini merupakan keberkahan dan sebuah keutamaan,” tuturnya.

Ra Nasih juga menyinggung proses hingga akhirnya Munas Alim Ulama dan Konbes NU diselenggarakan di Kampus INSYA Bangkalan.

“Kalian tentu mengikuti bagaimana akhirnya Munas dan Konbes NU dilaksanakan di INSYA. Kampus kita menjadi tempat yang dipilih dari sekian banyak pilihan yang ada.”

Ia kemudian menjelaskan bahwa dirinya tidak pernah berada dalam skenario ataupun upaya untuk menghadirkan Munas dan Konbes NU di INSYA. Menurutnya, berkembangnya opini bahwa Munas harus kembali kepada Syaichona Mohammad Cholil merupakan dinamika yang tumbuh di tengah masyarakat.

“Saya tidak pernah memosisikan diri sebagai penerus Syaichona Kholil. Saya tidak memiliki kapasitas untuk itu. Ketika berbicara tentang Syaichona Kholil, beliau adalah milik kita semua.”

Lebih lanjut, Ra Nasih menegaskan bahwa setiap orang sesungguhnya memiliki potensi untuk menjadi inspirasi bagi lingkungan sekitarnya.

“Inspirasi itu sebenarnya ada pada diri kita masing-masing.”

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki harapan tertentu ketika INSYA ditetapkan sebagai lokasi Munas dan Konbes NU, termasuk ketika kegiatan tersebut dihadiri oleh Presiden Republik Indonesia.

“Niat saya hanya sebatas mengabdi kepada NU. Namun ketika hal ini berkaitan dengan kampus, saya ingin menjaga netralitas kampus dalam hal apa pun.”

Terkait kehadiran Presiden RI, Ra Nasih menegaskan bahwa dirinya memandang kehadiran Presiden semata-mata sebagai kepala negara yang memberikan penghormatan kepada institusi pendidikan.

“Saya melihat kehadiran Bapak Prabowo ke INSYA sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai institusi negara yang berkeinginan hadir di kampus ini. Sebagai warga negara, saya menerima kehadirannya sebagai sebuah penghargaan kepada Presiden.”

Menurutnya, seluruh capaian yang diperoleh INSYA melalui penyelenggaraan Munas dan Konbes NU merupakan karunia Allah SWT yang datang tanpa diduga-duga (min haitsu lā yaḥtasib). Oleh karena itu, kegiatan tasyakuran ini menjadi wujud rasa syukur seluruh sivitas akademika atas keberkahan tersebut.

Menjelang akhir penyampaiannya, Ra Nasih kembali mengingatkan pentingnya menghidupkan nilai-nilai yang terkandung dalam tagline INSYA, yaitu Berkah, Bersinergi, dan Menginspirasi, sebagai budaya akademik yang harus diwujudkan dalam kehidupan kampus.

Sebagai penutup, Ra Nasih menjelaskan makna simbolik kenteng yang digunakan saat pembukaan Munas dan Konbes NU di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri oleh Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar, kemudian kembali digunakan pada penutupan di Kampus INSYA Bangkalan oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.

Ia menceritakan bahwa kenteng tersebut berasal dari sebuah bom peninggalan masa penjajahan Belanda yang gagal meledak ketika hendak digunakan untuk menyerang Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri. Berkat karamah pendiri pondok, KH. Ahmad Djazuli Utsman, bom tersebut kemudian dipotong dan dijadikan kenteng yang hingga kini digunakan sebagai penanda masuk waktu salat berjamaah dan kegiatan belajar.

Mengakhiri kuliah tamunya, Ra Nasih menyampaikan harapan agar simbol kenteng tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keberkahan, persatuan, dan perlindungan Allah SWT bagi Kampus INSYA.

“Semoga siapa pun yang menghendaki keburukan terhadap Kampus INSYA ini, dengan keberkahan Kenteng Al-Falah Ploso Kediri dan Syaichona Mohammad Cholil Bangkalan, segala niat yang tidak baik itu dapat tertolak.”

Kuliah tamu ini ditutup dengan pembacaan do’a oleh Syekh Nasreldin Mohamed Addelrazek Mohamed dari Al Azhar Mesir. Dengan harapan semoga menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika INSYA untuk terus meneladani nilai-nilai pendidikan, pengabdian, dan keteladanan yang diwariskan Syaichona Mohammad Cholil. Semangat keberkahan, sinergi, dan inspirasi yang menjadi identitas kampus diharapkan semakin mengakar dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi maupun kehidupan bermasyarakat.

Pos terkait